Biarkan mereka tersenyum...



Tiada jeritan ketika ini...
Tiada esakan saat ini..mereka2 yang peka juga tidak berkata apa..
Tiada erangan dari mereka2 yang mengadu kesakitan...
Kerna mereka2 ini sudah menikmati suatu yang berbeda..
Sesuatu yang mereka rasa dari tetesan2 air yang manis..
Selama mana lidah mereka mengulum dalam diam...
Aku masih jauh dari mereka-mereka ini..
Aku tak kan terburu-buru mengejar dan berada dalam kelompok mereka..
Aku biarkan mereka berfikir aku tidak punya daya..
Biarkan saja,sekalipun mereka tertawa aku sudah tiada..
Itu sudah cukup bagus untuk mataku....untuk nadiku..
 
Kesesakan itu membuatkan aku masih kurang terdesak untuk melangkah dan mempersetankan apa saja yang aku fikir aku sebahagiannya...Kalau saja takdir itu untuk aku,aku rela kerna pada penghujungnya tiada siapa yang akan pertikaikan sapa2 yang akan menang dan kalah...Berani aku toh selagi nafasku belum berhenti...Apabila kondisi semakin menyengat,ia sudah tidak menjadi bisa..malah ada setengahnya berkata...
"Ah...itu biasa-biasa saja..semua orang mengalaminya toh.."
 
Di sini aku bukan sekadar menanti harapan...
Tapi aku mencari harapan..

Di sini aku tidak ketawa kerna kekecewaan...
Tapi aku menangis kerna kebahagiaan..sekalipun ia belum sempurna.
Dan biarkan aku 'mati' untuk melihat mereka tersenyum...



berundur dari peperangan..


[ scene 1]
Menghancurkan raksasa bukan gampang toh..
Keberanian mana cukup.

Ketakutan itu yang mengawal perjalanan perjuanganmu..
Kamu sedar2 saja berada dalam area yang dipenuhi kuasa ketakutan.
Menggigil dan bunyi kertapan gigimu kedengaran sampai2 
orang bersuara" itu ada tulang2 yang sedang patah..."
(hampir-hampir sama toh..)
Kalau saja tidak ada yang mengejutkan kamu..
rasanya kamu masih memegang lutut sendirian..
sambil2 matamu liar mencari jalan keluar...

Mahu tentang apa kamu...?
Raksasa atau ketakutan mu sendiri...?

[scene 2]
Aku manusia belum layak menjadi kesatria untuk membunuh seekor pon raksasa...
Aku manusia yang punya hati serapuh tunggul rapuh..
Aku punya kesedihan,aku punya belas kasihan..
Aku punya kasih sayang yang aku sembunyikan...
Aku punya kesakitan yang sedikit dari luka yang yang besar...
Apa lagi yang aku ada...?

Aku tidak punya apa-apa toh...
Aku tidak punya apa-apa...

[scene 3]
Aku tidak mahu menjadi pembunuh...
Sekalipun untuk membunuh raksasa...
Peperangan ini aku tamatkan..
Kerna aku tidak mahu menjadi raksasa...
Bukan kerna aku berputus asa..






kesetiaan itu bego toh'...




Ketika kamu berusaha menentang dan bertarung dengan raksasa2
kamu berfikir tentang kemenangan pada penghujungnya
balik rumah dan boleh bergurau senda dengan spesis2 kamu..
menceritakan tentang power2 yang kamu gunakan..
tahap jurus ke berapa kamu lepaskan
apa taktik yang kamu gunakan..
apa strategi yang kamu aturkan..

Orang lain di daerah lain...
(mungkin juga kekasih yang kamu fikirkan..)
berkata begini:

 
Kamu akhirnya mula berhenti membunuh raksasa..
Kamu cuba jadi orang yang berjuang untuk kesetiaan..
Melupakan apa selama ini watak kamu..
Menjadi baik kerna kekasih mu meminta...

"pssst...ada setengahnya berkata konon untuk kepercayaan..."
untuk kebaikan matahari kamu yang akan muncul besok...
untuk menyingkirkan awan2 hitam yang menutup cahaya...
Untuk membolehkan kamu berada dalam ruang yang luas..
A'ha..Itu peluang toh..
Untuk mereka menikmati masa ketiadaan mu..
Untuk mencipta kamu menjadi baik..
untuk mencari alasan kalau2 ada alasan
.kamu saja yang tidak melihatnya.
Itu taktik yang sebenar-benarnya...
Kamu mula percaya pada kesetiaan..?

NO!!!


Kalau aku kamu...

Biar aku menjadi bajingan dalam pertarungan.
Tuhan,sudah kukatakan...tiada kepercayaan selain pada-MU