IVY Yang Menyerang Tanpa Pamit

Apakah yang ada dari masa lalu yang sangat berguna untuk kita?

Berbicaralah seorang sahabatku ini tentang masa lalu. Katanya, tidak ada satupun kenang-kenangan yang berguna, kerna selain menghadirkan kerinduan hanyalah senyuman yang kadang meletuskan tangisan dan terkadang dendam yang meliat. Masa lalu adalah kabus di udara dan kabut di air. Hari bergerak bagai kuda tempang yang kita tunggang, kegagalan mengawal maka tersembam ke tanah.

Kabus seperti sifatnya, segitu sama juga kabut. Saat tidak perlu dilihat dan diterjah, ia kan tetap ujud. Masa lalu senantiasa menumpuk di belakang kita, namun wajar ditinggalkan. Ia angina yang dirasa ada tapi tidak bisa ke mana.

Apa yang berguna dari masa lalu kita, Vy?

Adalah 'sahabat' yang kembali hadir mengingatkan kita apa yang perlu kita lakukan untuk masa mendatang.

"sekitar kita semakin mendepa, namun semakin kecil ruang untuk kita.."

"keadilan sangat benar telus, setelah begitu banyak yang kita kautkan, sudah masanya dia mencuri sedikit demi sedikit.."

"usia kita adalah yang paling istimewa dicopet oleh masa, kedua adalah energi, ketiga adalah keriuhan dan paling aku takuti adalah 'sahabatku'.."

Titik-titik memercik debu dan laman pun basah mengikut irama. Seketika ku angkat mukaku, dan tiada apa yang indah selain dari apa yang di dalam minda..

Dia pun sudah pergi.

Snow

'Tuan penyair, tuan Ka, tuan tidak menutup-nutupi fakta bahwa tuan pernah menjadi ateis. Mungkin saat ini tuan juga masih seorang ateis. Kerna itu, katakanlah kepada kami, siapakah yang menuruni salju dari langit? Apakah rahsia salju?'

Selama sesaat, mereka semua memandang melampaui serambi stesen untuk menyaksikan salju turun ke jalanan.

- orhan pamuk

setiap antaranya harus saling mengerti




Kata sang filsuf kepada penyapu jalanan,
“alangkah berat dan kotornya kerjamu, kasihan.”
Dan penyapu jalan menyahut,
“terima kasih, tuan. Namun katakan apa tugas tuan?”
Sang filsuf dengan megah menjawab,
“kuselami akal, tingkah laku dan keinginan insan,”
Dan si penyapu jalan berlalu meneruskan kerjanya, sambil tersenyum berkata,
“saya pun hiba kepada tuan.”  - 65 ( pasir & buih )

Pada helaian lembar yang kelihatan usang kutemui baris kata ini. aku memilihnya dengan sefahamnya. bertepatan dengan apa yang kita perlakukan.

Kerna dia menulis tentang kita.

Tidaklah kita mendapat pengertian sedang kita dalam keriakan.